Selasa, 13 Oktober 2015

Gunakan Waktumu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.” [Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk] (HR. Muslim no. 7597)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan terlihat begitu marah sehingga seolah-olah beliau meneriaki pasukan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.”


Al Qodhi mengatakan, ”Ini menunjukkan sangat dekatnya kiamat dan diutusnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Juga menunjukkan bahwa tidak ada jari di antara keduanya dan berarti tidak ada Nabi lagi antara diutusnya beliau shallallahu ’alaihi wa sallam dan hari kiamat. (Syarh Muslim, 3/247)


Dalam tafsir Al Baghowi (tafsir surat An Nahl : 2), Ibnu Abbas mengatakan, ”Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda datangnya hari kiamat. Tatkala Jibril ‘alaihis salam yang menjadi utusan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati penghuni langit. Para penghuni langit tersebut mengatakan, ”Allahu akbar, sebentar lagi terjadi kiamat.” Kejadian di Hari Kiamat Diceritakan dalam surat Al Qori’ah : الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5) فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11)


(1) Hari Kiamat, (2) apakah hari Kiamat itu? (3) Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? (4) Pada hari itu manusia adalah seperti laron yang bertebaran, (5) dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (6). Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, (7) maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. (8) Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, (9) maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (10) Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (11) (Yaitu) api yang sangat panas.


Ketahuilah bahwasanya Al Qori’ah merupakan salah satu nama kiamat sebagaimana kiamat juga dinamakan Al Haqqoh dan Al Ghosiyah. Kenapa dinamakan demikian? Karena pada saat itu hati begitu gelisah karena terkejut (takut). Kemudian Allah berfirman,’Apa itu Al Qori’ah’? Konteks kalimat ini dalam konteks kalimat tanya. Para ulama mengatakan bahwa setiap konteks kalimat seperti ini menunjukkan sangat besar dan ngerinya perkara yang disebutkan. Pada ayat selanjutnya Allah berfirman, ’Pada hari itu manusia adalah seperti firosy yang bertebaran’. Apa itu firosy? Para ulama mengatakan bahwa firosy adalah binatang kecil yang beterbangan. laronTatkala ada cahaya pada malam hari binatang itu saling berdesakan dan berebutan. Binatang ini penglihatannya begitu lemah sehingga tidak tahu arah dan tujuan. Itulah gambaran keadaan manusia tatkala hari kiamat, tatkala bangkit dari kuburnya. Manusia sangat bingung, berdesak-desakan tanpa tahu arah dan tujuan. Kemudian bagaimana keadaan gunung-gunung yang terpancang begitu kokohnya di bumi ini? Allah berfirman mengenai hal tersebut, ”dan gunung-gunung adalah seperti ’ihni yang dihambur-hamburkan”. gunung-hancurPara ulama mengatakan bahwasanya ’ihni di situ adalah bulu domba (shuf). Ada pula yang mengatakan bahwa ’ihni adalah kapas. Jadi ’ihni adalah suatu benda yang sangat ringan. Yang apabila diletakkan pada tangan, bulu (kapas) akan berhamburan tidak karuan. Itulah keadaan bumi pada hari kiamat nanti. Gunung-gunung akan hancur luluh sebagaimana dijelaskan pada firman Allah lainnya,


وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) ”Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al Waqi’ah [56] : 5-6)


Kemudian pada hari kiamat nanti Allah akan membagi manusia menjadi dua golongan. Yang pertama adalah : yang berat timbangannya, maksudnya adalah berat timbangan kebaikan daripada kejelekannya. Yang kedua adalah : yang ringan timbangannya, maksudnya adalah berat timbangan kejelekannya daripada kebaikannya. Untuk golongan pertama, Allah menjanjikan kepada mereka ’berada dalam kehidupan yang diridhoi’. Masya Allah!! Semoga Allah memudahkan kita termasuk golongan yang pertama ini. Itulah balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholih. Allah menjanjikan bagi mereka kehidupan yang menyenangkan, tidak ada kesusahan, tidak ada lagi kesedihan dan rasa takut. Semua akan mendapatkan ketenangan di dalamnya yaitu hidup di surga yang kekal. Sedangkan golongan kedua adalah golongan yang sangat menyedihkan kehidupannya. Semoga Allah menjauhkan kita darinya. Di mana golongan ini adalah golongan yang ringan timbangan kebaikannya. Dan di sini ada dua kemungkinan, bisa saja orang kafir yang tidak punya kebaikan sama sekali dan orang muslim yang lebih banyak kejelakan daripada kebaikannya. Na’udzu billahi min dzalik. Bagaimana kondisi golongan yang kedua ini? Allah berfirman, وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) ”Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” Apa yang dimaksud ummu dalam ayat tersebut? Ada dua tafsiran mengenai hal tersebut. Sebagian ulama menafsirkan ummu adalah tempat kembali. Padahal ummu secara bahasa berarti ibu. Kenapa disebut demikian? Karena tempat kembali seseorang adalah ibunya. Tatkala nangis pasti akan menuju ke ibunya agar redah. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa ummu adalah otak kepala. Maksudnya adalah seseorang akan dilemparkan di neraka dengan otaknya (kepalanya). Nas’alullahas salamah (kita memohon kepada Allah keselamatan dari hal itu). Makna keduanya bisa kita gunakan. Kemudian apa itu Hawiyah? (Yaitu) api yang sangat panas. Dan ingatlah panasnya api neraka tidaklah sama dengan api di dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”


Panas api kalian di dunia hanya 1/70 bagian dari panas api jahannam.” (HR. Bukhari).


Subhanallah!! Berarti sangat dahsyat sekali siksaan di dalamnya. Lihatlah di sini Allah menyebut mizan (timbangan). Di akhirat kelak Allah, setiap orang bersama dengan amalan dan catatan amalnya akan ditimbang pada satu timbangan. Namun ingat walaupun di sini dikatakan yang ditimbang adalah orangnya dan amalan serta kitabnya, bukan berarti orang yang gemuk, timbangannnya akan menjadi berat. Terdapat dalam hadits bahwa datang seorang laki-laki yang besar badannya pada hari kiamat. Di sisi Allah, tidaklah satu lengan tangannya dapat mengganti berat dosa-dosanya yang menumpuk. Kemudian dikatakan dalam hadits lainnya bahwa bekas nampan memberi orang minum lebih berat dari gunung Uhud. Masya Allah. Kenikmatan Yang Terlupakan Saudaraku, ingatlah akan hari di mana kita akan dikembalikan kepada Dzat yang telah menciptakan kita, hari di mana semua perbuatan kita akan dihisab. Maka renungkanlah perkataan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu,


”Sesungguhnya hari ini adalah hari beramal dan bukanlah hari hisab (perhitungan), sedangkan besok (di akhirat, pen) adalah hari hisab (perhitungan) dan bukanlah hari beramal lagi.” (HR. Bukhari secara mu’allaq, Ma’arijul Qobul II/106)


Ingatlah waktu luang! Jangan sampai dimanfaatkan untuk hal yang sia-sia Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa waktu luang merupakan salah satu di antara dua kenikmatan yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada manusia. Tetapi sangat disayangkan, banyak di antara manusia yang melupakan hal ini dan terlena dengannya. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ”Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhari&Muslim)


Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (18/219) membawakan perkataan Ibnu Baththol. Beliau mengatakan,


”Makna hadits ini adalah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang mendapatkan seperti ini, maka bersemangatlah agar tidak tertipu dengan lalai dari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan oleh-Nya. Di antara bentuk syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi larangan. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, dialah yang tertipu.”


Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama mengatakan,


”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun dia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dalam aktivitas dunia. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun dia dalam keadaan sakit. Apabila tergabung kedua nikmat ini, maka akan datang rasa malas untuk melakukan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya). (Maktabah Syamilah)


Ya Allah, kami meminta kepada Engkau surga dan amalan yang akan mengantarkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada Engkau (Ya Allah) dari neraka dan amalan yang akan mengantarkan kami kepadanya. Dan kami memohon kepada-Mu agar menjadikan setiap apa yang Engkau takdirkan bagi kami adalah baik. Amin Ya Mujibbad Da’awat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shollallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. 

 

 Rujukan utama : Tafsir Al Baghowi dan Tafsir Juz ‘Amma Al ‘Utsaimin 

Nama Allah Dinyatakan dalam Bahasa Swahili



”Swahili”. Ketika mendengar kata itu, banyak orang akan membayangkan Afrika dan binatang-binatang liar yang berkeliaran di padang rumput Serengeti. Tetapi, ada lagi hal-hal menarik tentang bahasa Swahili dan orang-orangnya.
Jerapah dan zebra di Afrika
SWAHILI adalah bahasa yang digunakan oleh lebih dari 100 juta orang di setidaknya 12 negara di Afrika bagian tengah dan timur. * Itu merupakan bahasa resmi atau nasional di beberapa negara seperti Kenya, Tanzania, dan Uganda. Dan di negara-negara sekitarnya, Swahili adalah bahasa yang umum digunakan oleh orang-orang dari berbagai daerah untuk berdagang dan berkomunikasi.
Bahasa Swahili sangat berperan dalam menyatukan orang-orang di Afrika Timur. Misalnya, di Tanzania saja ada setidaknya 114 bahasa suku. Bayangkan Anda pergi sejauh 40 sampai 80 kilometer dari rumah Anda dan kemudian bertemu dengan orang-orang yang menggunakan bahasa yang sangat berbeda! Dan bahkan, bahasa tertentu hanya digunakan oleh orang-orang yang tinggal di beberapa desa kecil. Bagaimana Anda bisa berkomunikasi dengan mereka? Jelaslah, memiliki satu bahasa yang dikenal umum sangat berguna.
Peta negeri-negeri di Afrika yang menggunakan bahasa Swahili
Sejarah Bahasa Swahili
Konon, bahasa Swahili telah digunakan setidaknya sejak abad kesepuluh. Itu kemudian menjadi bahasa tertulis pada abad ke-16. Orang-orang yang baru mempelajari bahasa Swahili  akan menyadari bahwa beberapa kata memiliki nuansa bahasa Arab. Malah, setidaknya 20 persen kosakata bahasa Swahili berasal dari Arab, dan selebihnya berasal dari Afrika. Maka, tidaklah mengherankan bahwa selama ratusan tahun, bahasa Swahili ditulis dengan huruf Arab.
Sekarang, bahasa Swahili ditulis dengan huruf Latin. Mengapa? Apa yang terjadi? Untuk menjawabnya, kita harus mundur ke pertengahan abad ke-19 saat misionaris pertama dari Eropa datang ke Afrika Timur dan berniat untuk menyampaikan berita Alkitab kepada penduduk asli.
Firman Allah Tiba di Afrika Timur
Pada 1499, selama pelayaran terkenal Vasco da Gama mengitari ujung selatan Afrika, misionaris Portugis memperkenalkan agama Katolik di Afrika Timur dengan memulai suatu misi di Zanzibar. Tetapi, 200 tahun kemudian, orang-orang Portugis dan ”Kekristenan” diusir dari daerah itu oleh penduduk setempat.
Setelah 150 tahun, barulah Firman Allah kembali ke Afrika Timur. Sekarang, Firman itu dibawa oleh seorang misionaris Jerman, Johann Ludwig Krapf. Saat ia tiba di Mombasa, Kenya, pada 1844, agama mayoritas di pesisir Afrika Timur adalah Islam, walaupun banyak orang yang tinggal di pedalaman tetap menganut kepercayaan tradisional, yaitu animisme. Krapf yakin bahwa Alkitab harus dapat dibaca oleh semua orang.
Tanpa membuang waktu, Krapf langsung mempelajari bahasa Swahili. Pada Juni 1844, tidak lama setelah tiba di sana, ia memulai tugas besar untuk menerjemahkan Alkitab. Sungguh menyedihkan, pada bulan berikutnya, istri yang baru dinikahinya selama dua tahun meninggal dan disusul beberapa hari kemudian oleh bayinya. Walaupun berduka, ia tetap melanjutkan pekerjaan penting menerjemahkan Alkitab. Pada 1847, tiga pasal pertama dari buku Kejadian diterbitkan dan menjadi karya tulis pertama yang dicetak dalam bahasa Swahili.
[Keterangan Gambar]
Terjemahan Kejadian 1:1-3 ke bahasa Swahili oleh Johann Krapf, 1847
Krapf adalah orang pertama yang menggunakan huruf Latin dan bukannya huruf Arab dalam menulis Swahili. Salah satu alasan ia tidak menggunakan huruf Arab adalah karena ”abjad Arab hanya akan menyulitkan orang Eropa” yang akan mempelajari bahasa itu dan ”huruf Latin akan memudahkan ’penduduk asli untuk mempelajari bahasa Eropa’”. Huruf Arab tetap digunakan oleh beberapa orang hingga bertahun-tahun kemudian; bahkan, ada bagian-bagian Alkitab yang diterbitkan dengan huruf tersebut. Tetapi, huruf Latin memang memudahkan banyak orang untuk mempelajari bahasa Swahili. Tidaklah mengherankan, banyak misionaris dan pelajar  bahasa Swahili lainnya senang akan perubahan ini.
Selain merintis penerjemahan Firman Allah ke bahasa Swahili, Krapf membubuh dasar bagi penerjemah lain setelah dia. Ia menerbitkan buku tata bahasa Swahili pertama, dan juga kamus pertama dalam bahasa tersebut.
Nama Allah dalam Bahasa Swahili
[Keterangan Gambar]
Sebagian dari Matius pasal 1 dalam huruf Arab bahasa Swahili, 1891
Ketika tiga pasal awal buku Kejadian diterbitkan pertama kali, nama Allah hanya diterjemahkan menjadi ”Allah Yang Mahakuasa”. Tetapi, menjelang akhir abad ke-19, pria-pria lainnya sampai ke Afrika Timur dan meneruskan pekerjaan menerjemahkan seluruh Alkitab ke bahasa Swahili. Mereka antara lain: Johann Rebmann, William Taylor, Harry Binns, Edward Steere, Francis Hodgson, dan Arthur Madan.
Yang patut diperhatikan dalam terjemahan awal itu adalah dimasukkannya nama Allah, tidak hanya di beberapa tempat tetapi di seluruh Kitab-Kitab Ibrani! Para penerjemah di Zanzibar menyebut nama ilahi ”Yahuwa”, sedangkan mereka yang di Mombasa menyebutnya ”Jehova”.
Pada 1895, seluruh Alkitab sudah tersedia dalam bahasa Swahili. Puluhan tahun kemudian, dibuat juga terjemahan-terjemahan lainnya, walaupun beberapa di antaranya tidak didistribusikan dengan luas. Pada awal abad ke-20, banyak upaya dilakukan untuk membakukan bahasa Swahili di Afrika Timur. Ini menghasilkan Alkitab Swahili Union Version pada 1952, yang paling luas peredarannya. Karena itu juga, nama ”Yehova” menjadi terjemahan nama Allah yang paling umum dalam bahasa Swahili.
[Keterangan Gambar]
Paragraf yang memuat nama Allah, Yehuwa, di halaman pembuka dari ”Swahili Union Version”
Sayangnya, karena terjemahan-terjemahan awal tersebut tidak dicetak lagi, nama ilahi ini juga mulai menghilang. Beberapa terjemahan yang lebih baru menghilangkannya sama sekali, dan yang lainnya mencantumkannya di beberapa ayat saja. Misalnya, dalam Union Version, nama Allah hanya muncul 15 kali, dan dalam revisinya pada 2006, nama itu hanya tertera 11 kali. *
[Keterangan Gambar]
Terjemahan awal menerjemahkan nama ilahi menjadi ”Yahuwa” dan ”Jehova”
Walaupun menghilangkan hampir semua nama ilahi, terjemahan itu memiliki fitur yang patut diperhatikan. Terdapat pernyataan gamblang bahwa nama Allah adalah Yehuwa, dan ini terpampang jelas di salah satu halaman pembuka. Ini terbukti sangat membantu para pencari kebenaran untuk mengetahui nama pribadi Bapak surgawi kita dari Alkitab mereka sendiri.
”Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru” dalam bahasa Swahili
Namun, kisah ini belum berakhir. Pada 1996, Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru diterbitkan dalam bahasa Swahili. Ini adalah terjemahan pertama dalam bahasa Swahili yang mengembalikan nama Yehuwa sebanyak 237 kali dari buku Matius sampai Penyingkapan (Wahyu). Kemudian pada 2003,  diterbitkanlah Alkitab lengkap Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru dalam bahasa Swahili. Sampai sekarang, kedua Alkitab ini telah dicetak sebanyak kira-kira 900.000 eksemplar.
Nama Allah tidak lagi digantikan dengan gelar-gelar atau disisipkan sebagai keterangan dalam kata pengantar. Sekarang, ketika orang-orang berhati tulus membuka Terjemahan Dunia Baru dalam bahasa Swahili, mereka akan merasa lebih dekat kepada Yehuwa setiap kali membaca nama-Nya yang muncul lebih dari 7.000 kali.
Terjemahan ini juga berupaya menggunakan bahasa Swahili yang modern dan mudah dimengerti sehingga bisa dipahami oleh semua pengguna bahasa Swahili di Afrika Timur. Selain itu, beberapa kekeliruan yang telah menyusup ke dalam terjemahan Alkitab lain telah diperbaiki. Sebagai hasilnya, para pembaca dapat merasa yakin bahwa mereka sedang membaca ”kata-kata kebenaran yang tepat” seperti yang diilhamkan oleh Pencipta kita, Allah Yehuwa.—Pengkhotbah 12:10.
Seorang pria membaca Alkitab
Banyak orang senang menggunakan ”Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru” bahasa Swahili
Banyak yang menyatakan penghargaan atas Terjemahan Dunia Baru dalam bahasa Swahili. Vicent, seorang penginjil sepenuh waktu Saksi-Saksi Yehuwa yang berusia 21 tahun mengatakan, ”Saya sangat senang karena Terjemahan Dunia Baru menggunakan bahasa Swahili yang mudah dimengerti dan nama Yehuwa yang dihilangkan oleh terjemahan lain telah dikembalikan ke tempatnya yang semula.” Frieda, ibu dari tiga anak, merasa bahwa terjemahan ini memudahkannya untuk menjelaskan kebenaran Alkitab kepada orang-orang lain.
Dua wanita membahas Alkitab
Sejak permulaannya, pekerjaan menerjemahkan Firman Allah ke bahasa Swahili telah berlangsung selama 150 tahun. Yesus mengatakan, ”Aku telah membuat namamu nyata.” (Yohanes 17:6) Sekarang, dengan menggunakan Terjemahan Dunia Baru, Saksi-Saksi Yehuwa berbahasa Swahili yang berjumlah lebih dari 76.000 di Afrika bagian tengah dan timur bersukacita karena bisa ikut menyatakan nama Yehuwa kepada semua orang.